Dalam investigasi kecelakaan atau insiden industri, SCAT (Systematic Cause Analysis Technique) adalah metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab suatu kejadian. SCAT membantu tim investigasi dalam menemukan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap insiden, sehingga dapat diambil tindakan pencegahan di masa depan.
Konsep SCAT dalam Investigasi
SCAT dikembangkan oleh International Loss Control Institute (ILCI) dan didasarkan pada prinsip bahwa kecelakaan terjadi karena kegagalan sistem, bukan hanya kesalahan individu. Metode ini mengelompokkan penyebab insiden ke dalam beberapa kategori utama:
- Faktor Langsung (Immediate Causes)
- Tindakan Tidak Aman (Unsafe Acts) → Misalnya, pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri (APD).
- Kondisi Tidak Aman (Unsafe Conditions) → Misalnya, peralatan rusak atau lingkungan kerja berbahaya.
- Faktor Dasar (Basic Causes)
- Faktor Individu → Kurangnya pelatihan, kelelahan, atau kurangnya keterampilan.
- Faktor Pekerjaan → Prosedur kerja yang tidak jelas, peralatan tidak sesuai, atau kurangnya pengawasan.
- Faktor Sistem (Lack of Control)
- Kebijakan Keselamatan yang Lemah → Misalnya, tidak adanya sistem manajemen keselamatan yang baik.
- Pengawasan yang Kurang → Manajer atau supervisor tidak memastikan standar keselamatan dipatuhi.
Proses Investigasi dengan SCAT
- Kumpulkan Data → Mengumpulkan bukti dari lokasi kejadian, saksi, dan rekaman.
- Identifikasi Faktor Langsung → Menentukan apakah ada tindakan atau kondisi tidak aman yang menyebabkan kejadian.
- Analisis Faktor Dasar → Meneliti mengapa tindakan atau kondisi tidak aman tersebut terjadi.
- Evaluasi Faktor Sistem → Menentukan apakah ada kelemahan dalam sistem manajemen keselamatan.
- Rekomendasi dan Perbaikan → Mengusulkan tindakan pencegahan untuk mencegah insiden serupa.
Contoh Penerapan SCAT
Jika terjadi kebakaran di pabrik akibat hubungan arus pendek, investigasi dengan SCAT dapat mengungkap:
- Faktor Langsung: Instalasi listrik rusak (kondisi tidak aman).
- Faktor Dasar: Kurangnya pemeliharaan berkala.
- Faktor Sistem: Tidak ada prosedur inspeksi rutin untuk sistem kelistrikan.
- Rekomendasi: Meningkatkan jadwal pemeliharaan dan pelatihan keselamatan bagi teknisi.
SCAT membantu perusahaan dalam memahami mengapa insiden terjadi dan bagaimana mencegahnya di masa depan. Jika Anda butuh informasi lebih lanjut, saya bisa bantu dengan contoh kasus atau format laporan SCAT.
Contoh Kasus Insiden dan Analisis dengan SCAT
Kasus: Ledakan di Tangki Penyimpanan Bahan Kimia
Deskripsi Insiden:
Pada tanggal 15 Januari 2024, terjadi ledakan di sebuah tangki penyimpanan bahan kimia di pabrik XYZ. Ledakan mengakibatkan satu pekerja mengalami luka bakar serius dan dua lainnya mengalami cedera ringan. Selain itu, kebakaran yang terjadi menyebabkan kerusakan pada fasilitas sekitarnya.
Analisis Insiden Menggunakan SCAT
1. Faktor Langsung (Immediate Causes)
- Tindakan Tidak Aman:
- Operator mengabaikan prosedur keamanan saat melakukan transfer bahan kimia.
- Tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai.
- Kondisi Tidak Aman:
- Tangki penyimpanan tidak memiliki sistem ventilasi yang memadai.
- Adanya kebocoran gas yang menciptakan atmosfer mudah terbakar.
2. Faktor Dasar (Basic Causes)
- Faktor Individu:
- Operator kurang mendapatkan pelatihan mengenai prosedur aman dalam menangani bahan kimia.
- Kurangnya kesadaran pekerja terhadap potensi bahaya gas yang mudah terbakar.
- Faktor Pekerjaan:
- Prosedur keselamatan kerja tidak diperbarui sesuai dengan standar terbaru.
- Tidak ada inspeksi rutin untuk memastikan peralatan dalam kondisi baik.
3. Faktor Sistem (Lack of Control)
- Kebijakan Keselamatan yang Lemah:
- Manajemen tidak memiliki sistem pemantauan ketat terhadap penyimpanan bahan kimia.
- Tidak ada audit keselamatan secara berkala.
- Pengawasan yang Kurang:
- Supervisor tidak memastikan pekerja mematuhi standar operasi prosedur (SOP).
- Tidak ada sistem pemantauan gas untuk mendeteksi kebocoran lebih awal.
Dampak Insiden
- Dampak Keselamatan:
- Cedera serius pada pekerja akibat luka bakar dan inhalasi asap beracun.
- Potensi risiko lebih besar jika kebakaran tidak segera dikendalikan.
- Dampak Ekonomi:
- Kerugian finansial akibat kerusakan infrastruktur dan penghentian operasional selama satu minggu.
- Biaya kompensasi bagi pekerja yang terluka dan perbaikan fasilitas.
- Dampak Lingkungan:
- Polusi udara akibat pelepasan gas beracun dari kebakaran.
- Risiko pencemaran lingkungan jika minyak atau bahan kimia terbakar dan menyebar.
Rekomendasi Perbaikan
- Meningkatkan Pelatihan dan Kesadaran:
- Memberikan pelatihan rutin kepada pekerja mengenai deteksi dini kebocoran gas dan prosedur evakuasi.
- Melaksanakan sesi safety briefing sebelum pekerjaan di area berisiko tinggi.
- Perbaikan Sistem dan Peralatan:
- Meningkatkan sistem deteksi gas otomatis dan memastikan alarm berfungsi dengan baik.
- Melakukan pemeliharaan rutin terhadap pipa dan peralatan listrik untuk mencegah korosi dan potensi percikan api.
- Menyediakan sistem pemadam kebakaran berbasis busa atau CO₂ yang lebih efektif untuk menangani kebakaran gas.
- Penegakan Kebijakan Keselamatan:
- Menerapkan prosedur “Work Permit System” sebelum pekerjaan di area berisiko tinggi dilakukan.
- Memastikan adanya pengawasan ketat oleh supervisor saat pekerjaan perbaikan berlangsung.
- Melakukan audit keselamatan berkala untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi risiko sebelum insiden terjadi.
Kesimpulan
Dari analisis menggunakan metode SCAT, insiden kebakaran ini terjadi akibat kombinasi kelalaian prosedural, kegagalan sistem deteksi kebocoran gas, dan lemahnya pengawasan keselamatan. Jika tindakan perbaikan diterapkan secara konsisten, kejadian serupa dapat dicegah, sehingga keselamatan pekerja dan keberlanjutan operasi kilang dapat terjaga.

Sunaryo adalah mantan pekerja pada Perusahaan Migas terbesar di Indonesia selama 29 tahun , pernah bekerja di bagian Operasional Utilities sebagai Ast & Pws, (12 tahun), di Bagian HSSE sebagai, Pws, Pws Ut dan Manager HSSE selama kurang lebih 13 tahun, saat ini masih aktif Sebagai Instruktur HSE di Pusdiklat HTC.